Tara Wardhani

The human body has limitations, the human spirit is boundless. Esprit!

Mon Souhait

    I wish the spell "Accio words" really works for journal. Geez.

Quote

    Faith is taking the first step even when you don't see the whole staircase - King, Martin.

Protokol Montreal

diposting oleh tara-wardhani-fisip14 pada 02 June 2015
di SOH208 (Rezim Internasional) - 1 komentar

Rezim Internasional – Week 13

Kelompok 2:

Kemas Muhammad Zulfikar (071211231019)

Tara Kukuh Wardhani (071411231025)

Syahrul Adityawarman (071411231045)

M. Alvien Maliki (071411233018)

Sevira Marsanti Utari (071411231073)

M. Hafidz Hubbusysyuhada (071411233030)

 

Protokol Montreal

Sejak berkembangnya teknologi industri, tepatnya pasca Perang Dunia, isu-isu internasional mengalami pergeseran dari hard politics menjadi low politics. Meningkatnya peredaran gas CFC yang dikeluarkan oleh pabrik-pabrik manufaktor negara maju telah merusak lapizan ozon sehingga sedikit demi sedikit mengalami penipisan. Masalah ini turut menjadi perhatian dunia sejak peningkatan penipisan lapisan ozon yang berlangsung cukup signifikan dari tahun ke tahun hingga rata-rata 20%-50% (Greene, 2001: 401). Hal ini turut menjadi perhatian dunia karena penipisan lapisan ozon mengakibatkan peningkatan radiasi ultraviolet yang dapat merusak kesehatan manusia, seperti merusak sistem imun tubuh, menyebabkan kanker kulit. Selain itu juga dapat merusak ekosistem yang ada, seperti kerusakan pada lahan pertanian serta kerusakan pada ekologi laut. Rowland dan Molina, dua ahli kimia asal Amerika, berusaha untuk mengemukakan permasalahan ini di dalam forum internasional untuk pertama kalinya di tahun 1974 (Greene, 2001: 401). Hipotesis yang dikemukakan oleh kedua ahli tersebut dikuatkan dengan bukti pada tahun 1985 ketika ditemukan sebuah lubang pada ozon yang disebabkan oleh gas CFC hasil pabrik. Oleh karena itu, pada tahun 1985, dibuatlah sebuah rezim internasional, yaitu Vienna Convention yang berisi untuk mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan CFC yang berlebih.

 

Amerika Serikat, Kanada, Swedia, dan Norwegia merupakan beberapa negara yang mengawali usaha penghentian penggunaan CFC (Greene, 2001: 402). Akan tetapi, Vienna Convention tetap tidak dapat berjalan efektif karena tingkat konsumsi CFC yang dinilai masih tinggi. Oleh karena itu, pada 16 September 1987 digagaslah sebuah rezim baru, yaitu Protokol Montreal. Hari penandatanganan disetujuinya Protokol Montreal oleh 36 negara industri kemudian diperingati sebagai Hari Ozon Internasional (UNEP, 2012). Kofi Annan, salah seorang sekretaris jenderal PBB ketujuh, menyatakan bahwa Protokol Montreal merupakan salah satu rezim yang paling sukses hingga saat ini. Hal ini dikarenakan, konsumsi gas CFC berangsur-angsur menurun hingga 50% pada tahun 1999 (Greene, 2001: 401). Kepatuhan negara-negara anggota Protokol Montreal terukur tinggi apabila dibandingkan dengan rezim lingkungan yang lain seperti Protokol Kyoto. Kepatuhan yang tinggi dalam pelaksaaan Protokol Montreal tersebut dikarenakan, penghapusan penggunaan CFC dan mensubstitusikannya dengan zat lain tidak memerlukan biaya yang relatif besar (Greene, 2001: 403). Lain halnya dengan Protokol Kyoto yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas, di mana untuk mencapai tujuan tersebut maka beberapa pabrik harus ditutup atau produksi barang harus dibatasi.

 

Rezim internasional juga dikatakan efektif apabila ia bersifat dinamis, yaitu ketika terdapat perkembangan-perkembangan positif yang diciptakan oleh rezim tersebut (Greene, 2001: 398). Protokol Montreal telah terbukti bersifat dinamis, karena dalam rentang waktu 1987-2000, Protokol Montreal mengalami perkembangan progresif yang ditandai dengan dilakukannya tujuh kali revisi untuk menyempurnakan regulasi yang ada, yakni di London (1990), Nairobi (1991), Copenhagen (1992), Bangkok (1993), Vienna (1995), Montreal (1997), Beijing (1999). Pertama, amandemen yang bertempatan di London, mengatur regulasi penghapusan penggunaan zat kimia yang mampu merusak ozon yang ditujukan untuk negara maju dan berhasil tercapai pada 1995 dengan tidak adanya negara maju yang memakai CFC (UNEP, 2012). Lalu, demi membantu negara berkembang dalam menangani isu lingkungannya, maka dibuat sebuah institusi yang bernama Multilateral Fund (MLF) dengan tujuan untuk secara bertahap menghapuskan penggunaan CFC di negara berkembang hingga tahun 2010.

 

Demi menjaga agar rezim Protokol Montreal tetap efektif, di tahun 1997 semakin banyak zat-zat kimia perusak ozon yang dicantumkan ke dalam daftar zat yang harus dihapuskan (UNEP, 2012). Hingga pada tahun 1999, terdapat 95 macam zat kimia yang terlarang untuk dipakai telah tercantum dalam rezim ini. Oleh karena itu, penggunaan CFC pun menurun dari 1,1 juta ton pada 1986, menjadi kurang dari 150.000 ton per tahunnya. Karena perannya yang signifikan dalam mengatasi isu ozon, maka partisipan Protokol Montreal pun bertambah hingga menjadi lebih dari 60 negara (Greene, 2001: 401). Lalu untuk membantu memonitor dan mengontrol kerusakan ozon yang terjadi, NASA meluncurkan sebuah satelit peneliti atmosfer yang bertujuan untuk mengukur variasi ozon serta memperlihatkan penampakan atmosfer bumi dari ketinggian tertentu. Tidak hanya itu, Protokol Montreal pun memberi solusi sebagai substitusi CFC menjadi HCFC yang dianggap lebih tidak membahayakan lingkungan (Greene, 2001: 403).

 

Peran Amerika Serikat yang dengan gencar mempromosikan rezim Protokol Montreal ini turut menjadi salah satu faktor yang memperkuat terlaksananya rezim ini dengan efektif. Selain itu, demi menjaga kepatuhan negara dalam menjalankan regulasi-regulasi yang ada, maka anggota-anggota dari Protokol Montreal turut rutin mengadakan pertemuan antar negara secara terjadwal dalam Conference of the Parties (COP) yang diadakan setiap tiga tahun sekali dan Meeting of the Parties (MOP) yang diadakan setiap satu tahun sekali (UNEP, 2012). Salah satu lembaga atau institusi yang dibentuk dalam Protokol Montreal yang telah penulis bahas sebelumnya, yaitu MLF juga turut mengadakan pertemuan-pertemuan rutin yang dinamakan sidang Executive Committee yang membahas lebih lanjut mengenai teknis dana bantuan pendaaan kepada negara berkembang agar negara berkembang tetap dapat ikut serta dan menjaga komitmen kepatuhannya dalam mengikuti rezim ini. Di Indonesia sendiri, sudah terdapat sebuah peraturan yang mengatur mengenai penggunaan CFC di tingkat domestik negara, yaitu diatur dalam Keppres no. 23 tahun 1992 yang dikontrol pelaksanaannya oleh Kementerian Lingkungan Hidup (O’Neil, 2009: 75).

 

Selain berhasil mengurangi zat-zat perusak ozon, Protokol Montreal juga telah berhasil mengembangkan sebuah transisi konsep ekonomi menuju Green Economy (UNEP, 2012). United Nations Environment Programme (UNEP) menjelaskan bahwa Green Economy adalah sebuah hasil yang meningkatkan kesejahteraan dan keadilan manusia, sembari mengurangi kerusakan lingkungan dan kelangkaan ekologi (UNEP, 2012). Definisi tersebut menyatukan tujuan ekonomi, yakni pertumbuhan pendapatan, dengan tujuan sosial, yakni mengurangi kemiskinan dan peningkatan lapangan pekerjaan, serta tujuan lingkungan yang berfokus pada pengurangan efek rumah kaca dan polusi, dan juga memelihara biodiversitas dan ekosistem (UNEP, 2012). Green Economy ini diharapkan mampu mengubah cara pandang ekonomi konvensional yang selalu fokus pada keuntungan tanpa memerhatikan lingkungan. Transisi menuju Green Economy dibuktikan oleh UNEP dengan efeknya terhadap tingkat sektor dan ekonomi makro. Investasi yang signifikan terhadap perbaikan lapisan ozon, transfer teknologi ke negara-negara berkembang, produk-produk inovasi yang berasal dari teknologi baru dengan harga terjangkau, dan menjaga PDB (produk domestik bruto) terkendali salah satunya karena terhindar dari berkurangnyakerugian di sektor agro kultural dan perikanan merupakan bukti kontribusi positif Protokol Montreal di sektor ekonomi (UNEP, 2012: 10). Protokol Montreal membawa inovasi bisnis yang menunjukkan efektifitas dan efisiensi berbagai bidang tanpa mengusik, justru memberi dampak-dampak positif bagi lingkungan dengan Green Economy.

 

Keefektifan rezim Protokol Montreal telah menarik 195 dari 196 total negara anggota PBB untuk turut meratifikasi rezim ini. Hal ini dikarenakan, Protokol Montreal tidak hanya menguntungkan dari segi pengamanan lingkungan saja, namun juga membawa dampak positif dalam aspek lain. Secara keseluruhan, Protokol Montreal telah “menghijaukan” ekonomi dengan cara-caranya. Efek-efek terhadap sektor ekonomi bukan merupakan tujuan awal dari dibentuknya protokol ini. Hal tersebut hanyalah efek samping dari tujuan memerbaiki lapisan ozon, namun memberikan dampak yang cukup baik bagi kemaslahatan manusia khususnya di bidang ekonomi di kemudian hari. Inovasi teknologi memecahkan solusi-solusi tentang bagaimana menjalankan ekonomi yang “bersih” (O’Neil, 2009: 76). Green Economy merupakan sebuah alternatif yang menunjukkan bahwa manusia bisa melakukan kegiatan ekonomi tanpa harus merusak lingkungan. Menunjukkan bahwa efek suksesnya Protokol Montreal melebar ke bidang ekonomi, meskipun tujuan awalnya hanya fokus ke lapisan ozon.

 

Kesimpulannya, seiring dengan perkembangan hubungan internasional, maka studi mengenai rezim pun turut berkembang. Kontribusi-kontribusi nyata pun telah diberikan rezim kepada Hubungan Internasional itu sendiri baik dari dimensi art maupun science. Tidak hanya berusaha untuk mengatur permasalahan di bidang hard politics, rezim pun turut andil dalam menangani isu-isu lainnya yang notabene menjadi masalah bagi dunia internasional. Peningkatan produksi pabrik yang menghasilkan zat-zat kimia berbahaya pun lambat laun merusak berbagai ekosistem yang ada di bumi sehingga keuntungan-keuntungan yang didapat dari hasil produksi tidak sebanding dengan kerugian yang dihasilkan dari proses produksinya. Kesadaran akan hal ini pun semakin meningkat di kalangan masyarakat internasional. Dimulai dari inisiatif negara-negara besar untuk tidak hanya menyediakan sebuah rezim yang sekedar mewadahi saja, namun juga memikirkan solusi-solusi nyata yang mampu mendorong agar terciptanya keefektifan dalam rezim ini. Protokol Montreal pun menjadi solusi yang dianggap signifikan dalam menghapuskan penggunaan zat CFC. Rezim ini pun tidak menginklusifkan diri dari negara dunia ketiga, namun ia juga berusaha untuk membantu mereka dalam mengatasi permasalahan-permasalahan lingkungannya.

 

Referensi:

Greene, Owen. 2001. “Environmental Issues”, dalam John Baylis dan Steve Smith [eds.]. The Globalization of World Politics, Vol. 2. Oxford: Oxford Press, pp. 387-414.

 

O’Neill, Kate. 2009. The Environment and International Relations. Cambridge: Cambridge University Press: 71 – 134.

 

United Nation Environment Programme. 2012. “The Montreal Protocol and The Green Economy” [Online], dalam www.unep.org/.../green-economy-report.pdf diakses pada 30 Mei 2015.

1 Komentar

ROHANA JASNI

pada : 09 August 2016


"fakta yang berkesan"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :